5Khutbah Jumat Tentang Isra' Mi'raj Terbaik, Singkat dan Padat Format PDF NU. 3 Khutbah Jumat Tentang Sedekah Paling Bagus Tahun Ini. 4 Materi Khutbah Jumat Paling Bagus Akhir Bulan Dzulqa'dah. Daftar Khutbah Jumat PDF Lengkap Selama Bulan Ramadhan 2022, Mulai Minggu Pertama Hingga Keempat.
Isikhutbah Jumat selengkapnya merujuk pada artikel Islami ini » Naskah khutbah Jumat ini telah saya sampaikan dalam shalat jumat hari ini di Masjid Al Itisham - Bogor. Bagi para khatib Jumat sangat diharapkan agar turut membawakan naskah ini di masjid anda. Bagi yang bukan khatib, agar share naskah khutbah Jumat ini ke teman-teman anda.
Jumatkali ini tengah berada di bulan Dzulhijjah. Bulan ini juga disebut dengan bulan besar. Karenanya khutbah Jumat berkenaan dengan hal tersebut. Termasuk pesan yang disampaikan Nabi Muhammad pada momentum Idul Adha. Karenanya, ada baiknya melakukan perenungan atas pesan yang disampaikan Rasulullah saat di bulan Dzulhijjah ini.
BacaJuga:Khutbah Jumat: Enam Hal Persiapan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan. Saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri juga kepada para hadirin, mari kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah SWT dengan berusaha melakukan perintah-perintahnya serta menjauhi semua larangan-larangannya. Dalam waktu dekat, kita akan memasuki bulan Ramadhan.
KhutbahJumat ini mengingatkan kita semua t antangan zaman yang akan dihadapi para generasi muda kelak tentunya lebih berat daripada masa sekarang. Generasi muda sekarang harus bersiap menjadi generasi yang tangguh menatap gelombang badai perubahan yang siap menghantam dengan hal-hal yang bermakna.
Namunapakah yang sebenarnya mendorong manusia untuk beribadah? Filsuf Muslim Abu ʿAli al-Ḥusayn ibn ʿAbd Allah ibn Sina atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina membagi motivasi beribadah menjadi tiga hal. Pertama, motivasi ala pedagang. Seseorang beribadah karena didorong oleh keuntungan timbal balik dari sesuatu yang ia keluarkan.
. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ، فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ، وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Marilah kesempatan istimewa ini kita jadikan untuk saling mengingatkan akan makna takwa. Yakni bagaimana dalam sepekan, bahkan setiap saat untuk terus berupaya meningkatkan rasa takut kepada Allah SWT. Dengan demikian, setiap detik kita merasa terus dipantau layaknya CCTV. Percayalah, kalau demikian dalam keseharian, maka kualitas dan kuantitas ibadah maupun penghambaan kita kepada Allah SWT akan terus meningkat. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang bertakwa yang akan mendapatkan petunjuk dalam setiap langkah kehidupan kita. Dan dengan keimanan serta ketakwaan yang kokoh ini, semoga kita akan mampu menjadi umat Islam yang sempurna yang mampu mewujudkan rukun iman dan melaksanakan rukun Islam. Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Kesempurnaan Islam bisa kita raih dengan menjalankan lima ibadah yang terangkum dalam rukun Islam. Dan ibadah yang menjadi pungkasan dalam rukun Islam tersebut adalah berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 97 sebagai berikut وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ Artinya Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam. Hadirin yang Dirahmati Allah Ayat ini menjadi pengingat pada kita selaku umat Islam untuk berusaha semaksimal mungkin bisa melaksanakan ibadah haji. Dengan menjalankan rukun Islam yang kelima ini, tentu kita akan bisa menyempurnakan keislaman kita. Sehingga pergi ke Tanah Suci untuk berhaji selalu menjadi cita-cita dan impian umat Islam sejak lahir ke dunia ini. Namun dalam ayat ini, Allah memberi catatan bahwa ibadah haji merupakan kewajiban bagi orang-orang yang mampu untuk menunaikannya. Lalu pertanyaannya, apa kategori orang yang mampu dalam menjalankan ibadah haji? Para ulama membagi pengertian “mampu berhaji” menjadi dua kategori. Pertama adalah mampu melaksanakan haji dengan dirinya sendiri dan yang kedua adalah mampu melaksanakan haji dengan digantikan orang lain. Seseorang bisa disebut mampu melaksanakan ibadah haji dengan dirinya sendiri apabila memenuhi lima hal. Pertama adalah kesehatan jasmani. Kedua, sarana transportasi yang memadai. Ketiga, aman dan terjaminnya keselamatan nyawa, harta, dan harga dirinya selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji. Keempat, perginya perempuan dengan suami, mahram, atau beberapa perempuan yang dapat dipercaya dalam ibadah haji. Dan kelima rentang waktu yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan haji. Jadi bisa kita pahami bahwa kriteria mampu untuk berhaji bukan hanya terkait dengan kemampuan finansial, namun banyak elemen yang perlu dipersiapkan untuk bisa dikatakan mampu berhaji. Jika seseorang sudah berusaha dan belum dapat mencukupi kriteria-kriteria mampu serta belum bisa melaksanakan ibadah haji, maka tidak ada dosa baginya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 286 sebagai berikut لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا Artinya Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dalam surat al-Maidah, ayat 6 juga ditegaskan oleh Allah SWT sebagai berikut مَا يُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ Artinya Allah tidak menginginkan bagi kalian sesuatu yang memberatkan kalian. Namun demikian, hadirin yang dirahmati oleh Allah, kita patut berbahagia karena di Indonesia, semangat dan antusias umat Islam untuk berhaji sangat tinggi. Berbagai upaya dilakukan individu muslim, baik secara moral maupun material untuk dapat segera diberangkatkan pemerintah ke Tanah Suci. Hal ini terlihat dari antrean daftar tunggu yang berdasarkan data Kementerian Agama bisa mencapai puluhan tahun. Dalam kondisi normal, pemerintah memberangkatkan 221 ribu jamaah untuk berhaji. Para jamaah Indonesia bergabung dengan kurang lebih 2,5 juta jamaah haji dari berbagai penjuru dunia. Namun kita ketahui bersama bahwa tahun ini pelaksanaan ibadah haji diprioritaskan kepada mereka yang berusia tua. Belum lagi sebelumnya terkendala pandemi Covid-19. Dengan aturan yang ada, maka mereka yang telah mendaftar dan antreannya demikian panjang harus kembali menahan diri dan menebalkan kesabaran. Dengan demikian, kondisi ini tidak boleh menurunkan semangat umat Islam untuk terus berusaha dan berdoa guna mewujudkan impian untuk bisa beribadah di Tanah Suci. Sudah bisa dipastikan umat Islam, khususnya para calon jamaah haji yang memang sudah saatnya diberangkatkan, merasakan kesedihan atas penundaan haji ini. Pelaksanaan haji boleh tertunda, tapi niat mesti terus terjaga. Kerinduan untuk mengunjungi Baitullah seyogianya tak ikut mereda. Baik bagi orang yang sudah menunggu antrean berangkat maupun baru berikhtiar menabung untuk itu. Kita harus mampu mengambil hikmah atas kondisi ini dan berdoa semoga dengan ditundanya ini tidak mengurangi sama sekali makna niat kita untuk melaksanakan ibadah haji. Perlu kita sadari bahwa salah satu tujuan dari beragama atau maqashidus syari'ah adalah hifdhun nafs, menjaga keselamatan jiwa. Menjaga keselamatan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Kaidah fiqih juga menegaskan bahwa دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ Artinya Upaya menolak kerusakan harus didahulukan daripada upaya mengambil kemaslahatan. Dengan pertimbangan memberikan kesempatan kepada mereka yang usianya senja semoga menjadi jalan bagi kemudahan jamaah lain. Marilah kita berdoa semoga kondisi ini segera berlalu dan dapat kembali normal. Semoga Allah mengijabah doa kita semua, amin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Kumpulan 9+ Kata Bijak Salam Jumat Berkah Paling Lengkap Kata Kata from What is Khutbah JumatThe Benefits of Using Stories in the Khutbah JumatHow to Choose the Right Story for Your Khutbah JumatThe Benefits of Using Stories in the Khutbah JumatExamples of Motivational Stories for Khutbah JumatTips for Delivering an Effective Khutbah JumatConclusion What is Khutbah Jumat Khutbah Jumat is the sermon that is given on Fridays in many Islamic communities. It is traditionally given in the mosque, and it is an opportunity for the Imam, or leader of the community, to deliver a message of faith and inspiration to the congregation. The Khutbah Jumat is an important part of the Islamic tradition, as it sets the tone for the week and prepares the community for the upcoming days. The Benefits of Using Stories in the Khutbah Jumat Using stories in the Khutbah Jumat can be an effective way to inspire and motivate the congregation. Stories can be used to bring out important points or to illustrate a point of view. They can also be used to bring out emotions, and to create a sense of connection between the Imam and the congregation. Stories can help to bring the message alive and to make it more relevant to the congregation. How to Choose the Right Story for Your Khutbah Jumat When selecting a story to use in your Khutbah Jumat, it is important to choose one that is appropriate and relevant to the theme of your sermon. It should also be appropriate for the age group of the congregation. It is also important to choose a story that has a positive message and that is inspiring. Additionally, it is important to choose a story that is easy to understand and that can be understood by all members of the congregation. The Benefits of Using Stories in the Khutbah Jumat Using stories in the Khutbah Jumat can be an effective way to inspire and motivate the congregation. Stories can be used to bring out important points or to illustrate a point of view. They can also be used to bring out emotions, and to create a sense of connection between the Imam and the congregation. Stories can help to bring the message alive and to make it more relevant to the congregation. Examples of Motivational Stories for Khutbah Jumat There are many stories that can be used in Khutbah Jumat. These can be stories of the Prophet Muhammad, stories of the early Muslims, or stories of modern-day Muslims. The following are some examples of stories that can be used to motivate and inspire the congregation The story of Bilal ibn Rabah, the first muezzin of Islam The story of Khadija, the first wife of the Prophet Muhammad The story of Umar ibn Al-Khattab, the second caliph of Islam The story of Muhammad Ali Jinnah, the founder of Pakistan The story of Malala Yousafzai, the Pakistani activist for female education These are just a few examples of stories that can be used to motivate and inspire the congregation in Khutbah Jumat. There are many other stories that can be used, depending on the theme of the sermon and the interests of the congregation. Tips for Delivering an Effective Khutbah Jumat When delivering a Khutbah Jumat, it is important to remember to keep it concise and to the point. The sermon should be delivered in a clear and concise manner, and should be kept to the recommended length of 15-20 minutes. It is also important to practice the sermon beforehand, in order to ensure that it is delivered effectively and confidently. Additionally, it is important to remember to engage the audience and to make sure that they are following the sermon. Conclusion Khutbah Jumat is an important part of the Islamic tradition, and it is an opportunity for the Imam to deliver an inspiring message to the congregation. Using stories in the Khutbah Jumat can be an effective way to inspire and motivate the congregation. It is important to choose stories that are appropriate and relevant to the theme of the sermon, and that are easy to understand and relate to. Additionally, it is important to remember to keep the sermon concise and to engage the audience.
Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Pada Jum’at, 1 Rajab 1440 H / 08 Maret 2019 M. Khutbah Pertama – Khutbah Jum’at Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ Ummatal Islam, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia karena untuk maslahat yang besar dan tujuan yang agung. Yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tujuan ini saudaraku sekalian, tidak akan bisa terealisasi kecuali dengan kita mempunyai sifat al-hirsh kesungguhan dan semangat didalam berbagai macam kebaikan. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk mempunyai sifat al-hirsh semangat dan sungguh-sungguh didalam kebaikan. Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ “Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh dalam segala urusanmu, serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.” HR. Tirmidzi Sifat hirsh, sifat kesungguhan, semangat dalam kebaikan adalah merupakan sifat yang mulia yang dimiliki seorang insan. Sebaliknya, sifat malas, sifat lemah, sifat yang tidak disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah;” HR. Muslim Kuat dalam keimanan, kuat dalam keinginan, kuat dalam kesungguhan, kuat dalam segalanya, terutama dalam beramal shalih. Tidak mungkin saudaraku sekalian, kita bisa mendapatkan cita-cita yang paling tinggi yaitu surga kecuali dengan adanya hirsh, dengan adanya semangat dan kesungguhan dalam kehidupan kita. Bahkan kita tidak bisa menjaga keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah kecuali dengan adanya kesungguhan. Oleh karena itulah Allah Ta’ala berfirman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٠٢﴾ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” QS. Ali-Imran[3] 102 Artinya, hendaklah kalian benar-benar menjaga ketakwaan kalian dengan penuh kesungguhan, dengan penuh semangat di dalam menjaga keimanan kita sampai akhir hayat kita. Karena ketika kita telah kehilangan semangat dalam kebaikan, kita pasti akan semangat dalam keburukan. Apabila kita telah semangat dalam keburukan, maka itu kebinasaan untuk hidup kita saudaraku sekalian. Kewajiban seorang Mukmin untuk menyadari bahwasannya kewajiban dia adalah untuk melawan hawa nafsunya. Karena saudaraku sekalian, hawa nafsu kita memang tidak menyukai kebaikan. Hawa nafsu kita selalu condong kepada keburukan. Berbeda dengan fitrah kita yang menyukai kebaikan. Allah Ta’ala berfirman إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ “Sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.” QS. Yusuf[12] 53 Tidak mungkin kita memiliki jiwa sungguh-sungguh dalam kehidupan dan semangat dalam kebaikan kecuali dengan cara berjihad melawan hawa nafsu kita, berjihad melawan kemalasan kita, berjihad melawan berbagai macam bisikan-bisikan setan yang akan menyebabkan kita kendor dalam kebaikan. Berapa banyak saudaraku sekalian, hal-hal yang menjadikan seseorang lemah dalam kebaikan? Diantaranya yaitu cinta dunia yang berlebihan. Ketika ia sangat semangat terhadap dunia, dia sangat bersungguh-sungguh mencari harta, bersungguh-sungguh mencari kedudukan, maka disaat itu ia akan lemah untuk mencari kehidupan akhirat. Ketika ia memandang bahwa dunia segala-galanya, ia melihat bahwasannya dunia itulah tujuan akhir hidupnya, bahwasanya kemuliaan dengan dunia, dan bahwasanya kesempurnaan itu dengan dunia, karena yang ia harapkan penghormatan manusia, sama sekali tidak mengharapkan keridhaan Allah, bagaimana orang seperti ini akan menjadi orang yang semangat untuk mencari ridha Allah? Bagaimana orang seperti ini akan menjadi orang yang sungguh-sungguh menjaga ketakwaan dan keimanan dia kepada Allah? Bahkan terkadang yang haram pun menjadi halal demi untuk mendapatkan semua keinginan dunianya tersebut. Sehingga disaat itulah semangat ia kepada kebaikan menjadi lemah, semangat ia hanya mencari kebahagiaan dunia belaka. Ummatal Islam, Diantara perkara yang menyebabkan semangat seseorang kepada kebaikan menjadi lemah dan pudar adalah semangat mengikuti hawa nafsu. Ketika seseorang mengikuti hawa nafsu, dia memandang hawa nafsu itu adalah segala sesuatu yang memuaskan hidupnya. Dia ingin hatinya puas, dia ingin nafsunya puas, dia ingin semuanya terpuaskan dalam kehidupan dunia ini. Maka ia mengikuti hawa nafsunya, disaat itulah semangat ia kepada kebaikan pun menjadi lemah. Oleh karena itu saudara-saudaraku sekalian, cobalah setiap kita berpikir, “dimana semangat kita kita letakkan? Selama ini kita semangat menuju apa? Apakah semangat menuju keridhaan Allah ataukah semangat menuju sesuatu yang Allah tidak ridhai? أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم Khutbah kedua – Khutbah Jum’at Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ Ummatal Islam, Orang-orang yang bisa menjaga semangat dalam kebaikan hanyalah orang-orang yang menggunakan akal pikirannya. Ketika ia berpikir dengan pikiran yang lurus dan sehat, ia memahami bahwasannya perkara yang tidak bermanfaat itu tidak akan membawakan kepada dia sesuatu apapun manfaat berupa pahala maupun yang lainnya. Ia memandang sesuatu itu apabila tidak memberikan manfaat untuk hidupnya, buat apa? Dia pikirkan dengan akalnya yang sehat. Ketika dia hendak berbuat maksiat, dia pikirkan dengan akalnya yang sehat bahwasanya maksiat ini selalu memberikan mudhorot dalam hidup, mencabut keberkahan hidup, mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan menyeret kepada maksiat-maksiat berikutnya. Dengan akalnya yang sehat tersebut ia berpikir bahwa sesuatu itu ternyata hanya akan merugikan dia. Bahkan membinasakan waktu-waktunya. Orang yang berpikir dengan sehat, ketika ia hendak melakukan kemalasan, dia berpikir buat apa saya malas? Apa manfaat kemalasan buat hidup saya? Apakah dengan saya bermalas-malas saya akan mendapatkan sesuatu yang saya inginkan berupa kemuliaan dunia dan akhirat? Tidak mungkin! Maka ia lawan kemalasannya tersebut. Maka dari itulah, berbahagialah orang yang menggunakan akal pikirannya untuk bersungguh-sungguh dan menjaga kesungguhannya. Orang yang bisa menjaga kesungguhan dan semangatnya adalah orang yang senantiasa mengharapkan keridhaan Allah semata. Orang yang beriman kepada kehidupan akhirat, orang yang mengharapkan surga Allah, keinginan yang tertinggi bagi dia adalah ridha Allah. Dihatinya yang ada hanyalah keinginan yang kuat untuk mendapatkan pahala yang besar. Maka disaat itu ia akan semangat dalam kebaikan. Namun terkadang saudaraku, semangat kepada kebaikan terhenti ketika ia memikirkan beratnya perbuatan kebaikan. Ketika dia hendak mengamalkan kebaikan lalu ia berpikir bahwa ternyata kebaikan dan amal tersebut berat, ia tidak berfikir betapa besarnya pahala yang akan Allah berikan kepadanya. Ia pun kemudian dihentikan oleh kemalasannya. Sungguh seperti ini orang-orang yang berjiwa kerdil, bukan orang-orang yang berjiwa besar. Terlebih para penuntut ilmu. Syaikh Bakr Abu Zaid berkata dalam kitabnya “Hilyah Thalibil Ilmi“, Seorang penuntut ilmu hendaklah memiliki sifat kejantanan. Jantan dia dalam menuntut ilmu. Artinya berani menghadapi rintangan dalam menuntut ilmu, kesulitan-kesulitan yang ia dapatkan dalam menuntut ilmu betul-betul hadapi dengan penuh kesabaran, ketabahan, sambil terus ia berusaha untuk mengkaji dan mengkaji. Orang yang malas-malasan dalam menuntut ilmu, ketika mendapatkan ternyata ilmu tersebut sulit lantas ia mundur, sama sekali ia tidak akan mendapatkan ilmu tersebut. Sehingga akhirnya ia merugi saudara-saudaraku sekalian. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ اجْعَلنَا مِن التَّوَّابِين اللهُمَّ اجْعَلنَا مِن المتَّقِين اللهُمَّ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوابُ الرَّحِيم اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ عباد الله إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٩٠﴾ فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر. Dengarkan dan Download Khutbah Jum’at Singkat Tentang Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau Google+ Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.
Nama eBook Khutbah Jum’at Kisah Secangkir Kopi Penulis Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA حفظه الله ِAlhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah memberi kita berbagai nikmat yang sangat banyak lagi tak terhitung banyaknya, selanjutnya shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan mereka yang mengikuti mereka dengan baik hingga suatu hari kiamat. Pada kesempatan ini penulis -semoga Allah menjaganya- pada awal khutbah menyertakan sebuah kisah tentang secangkir kopi, bagaimana kisahnya dan apa yang hendak dituju oleh penulis? silahkan download eBook ini Download atau atau
Materi khutbah singkat di bawah ini membeberkan suatu contoh akhlak luhur sahabat Nabi, ketika dihadapkan dengan harta duniawi. Abu Dzar al-Ghifari, sahabat berperangai mulia itu, menunjukkan kepada kita semua bahwa tidak larut dengan gemerlap kekayaan adalah sesuatu yang sangat mungkin. Salah satunya dengan tidak hanya berpikir untuk diri sendiri, melainkan juga peduli kepada kebutuhan orang lain. Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Khutbah Jumat Teladan Kezuhudan Abu Dzar al-Ghifari". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan dekstop. Semoga bermanfaat! Redaksi اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى خَاتَمِ اْلأَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَّعَلى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Di awal khutbah ini, mari kita tingkatkan ketakwaan terhadap Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan berupaya secara optimal menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Di antara wujud ketakwaan terhadap Allah adalah sikap zuhud. Zuhud secara substansial dapat diartikan sebagai keadaan jiwa yang tidak didominasi oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Adapun indikator utamanya adalah وُجُودُ الرَّاحَةِ فِي الْخُرُوجِ عَنِ الْمِلْكِ “Tetap merasa nyaman dan tidak merasa kehilangan saat harta dunia keluar dari kepemilikan kita.” Demikan menurut Syekh Abdullah bin al-Khafif 276-371 H, sufi Ahlussunnah wal Jamaah asal kota Shiraz Persia, atau Iran sekarang. Abul Qasim al-Qusyairi, ar-Risâlatul Quraisyiyyah, juz I, halaman 55. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Di antara sahabat Nabi Muhammad saw yang terkenal kezuhudannya adalah Abu Dzar Al-Ghifari ra wafat 32 H, orang keempat atau kelima yang memeluk Islam langsung di hadapan Nabi Muhammad saw. Saking zuhudnya, Abu Dzar menganggap bahwa orang tidak boleh menyimpan biaya hidup yang melebihi kebutuhannya dalam sehari semalam. Karenanya, sahabat Nabi saw yang lain, yaitu Mu’awiyah ra menguji konsistensi sikap kezuhudan sahabatnya itu. Sayyidina Mu’awwiyah ra mengutus orang untuk memberinya uang dinar, kurang lebih sama dengan 3,5 miliar rupiah. Utusan itupun pergi membawa uang itu mendatangi Abu Dzar. Setelah sampai di sana, ia mengutarakan maksudnya “Mu’awiyah mengirimkan uang ini untukmu.” Mendapati tamunya memberikan uang yang sangat banyak, Abu Dzar segera menerimanya. Namun setelah si tamu berpamitan, Ia segera membagikan uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan dan tidak menyisakan sedikit pun untuk diri dan keluarganya. Tak terduga, di waktu kemudian atas perintah Muawiyah utusan itu kembali lagi kepadanya dan menyatakan bahwa ia telah salah orang. “Sungguh aku telah salah memberikan uang dinar itu kepadamu, sebenarnya aku diutus untuk memberikannya kepada orang yang lain, aku takut Mu’awiyah nanti akan menghukumku,” kata utusan itu penuh kekhawatiran. “Bagaimana kamu itu, demi Allah uang itu tidak sampai menginap di sini sedikit pun langsung ku bagikan kepada orang yang membutuhkan pada hari itu juga; tapi tenang, sabarlah dan tunggu nanti akan aku ganti,” jawab Abu Dzar dengan tenang. Muhammad bin Abdillah al-Jardani ad-Dimyathi, al-Jawâhir al-Lu’lu’iyyah fî Syarhil Arba’înan Nawawiyyah, [Mansurah, Maktabah al-Îman], halaman 157. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Teladan kezuhudan Abu Dzar al-Ghifari ini selaras dengan kalam hikmah yang sangat populer حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ Artinya, “Cinta dunia adalah pokok setiap kesalahan” Riwayat Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Tentu kita cukup sulit untuk meniru secara persis kezuhudan Sayyidina Abu Dzar al-Ghifari. Namun, secara substansial kezuhudan Abu Dzar ra dalam hal menjaga diri dari terkuasai oleh harta duniawi dapat kita teladani. Begitu pula keteladanannya untuk ringan berbagi rezeki kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Dengan meneladaninya semoga kita tercatat sebagai orang yang telah berupaya meningkatkan ketakwaan dengan sebenar-benarnya. Amin ya rabbal alamin. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ ١ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ٢ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣. بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah II اَلحمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنَا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ واٰلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ أَمَّا بَعْدُ فيَآ أَيُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَاَلى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وَمَا بَطَنَ، وحافَظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والْجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ، فَقالَ تَعَالَى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمً. اَللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ و عُثْمانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وَعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَةً، ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اَللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسْلِمِيْنَ، وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ، ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْها وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرُ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والرِّبَا وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرْ Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online Baca juga naskah khutbah lainnya Khutbah Jumat Bertuturlah yang Baik atau Diam! Khutbah Jumat Kematian itu Pasti, Bersiaplah! Khutbah Jumat Keutamaan yang Semestinya Kita Lakukan
Bogor - Beberapa hari terakhir ini beberapa daerah di Indonesia dilanda bencana. Ada gempa bumi di Cianjur, Garut, dan Tasikmalaya. Lalu ada erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. Bahkan, bencana yang menimpa sejumlah daerah di Indonesia ini ada yang memakan korban jiwa. Musibah adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Kita tidak tahu kapan bencana itu terjadi. Bencana sering muncul tiba-tiba tanpa dugaan. Pada Jumat pekan ini khatib dapat menyampaikan materi khutbah mengenai musibah kebencanaan. Materi khutbah ini menjabarkan tentang makna di balik musibah kebencanaan. Menelusuri Penyebab Sungai Eufrat Mengering yang Disebut Sebagai Tanda Kiamat Bom Bunuh Diri Bandung, PBNU Seharusnya BNPT Densus 88 Bisa Mendeteksi Drama Al-Fatihah Tim Maroko Sebelum Adu Penalti dan Sujud Syukur Usai Bungkam Spanyol di Piala Dunia 2022 Khatib tak perlu repot-repot membuat materinya. Khatib dapat menggunakan teks khutbah Jumat yang telah tersedia dalam artikel ini. Mengutip berikut adalah teks materi khutbah Jumat singkat mengenai musibah kebencanaan yang dapat digunakan khatib. Khutbah Pertamaإِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا Jamaah jumat yang berbahagia Marilah kita panjatkan puja dan puji kehadirat Allah Yang Maha Besar. Semoga kita senantiasa dilindungi dari bencana, malapetaka, dan lain sebagainya. Shalawat dan salam marilah kita limpahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw. Tidak lupa pula, berdirinya khatib di sini hendak mengingatkan kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah. Hanya dengan iman dan takwa, kita dapat bertahan di tengah bencana dan kesulitan hidup. Lebih dari itu, iman dan takwa dapat menjadi modal bagi kita untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jamaah salat jumat yang berbahagia Musibah merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat diingkari. Musibah biasanya muncul tanpa diduga, tiba-tiba dan menimbulkan dampak tertentu pada manusia. Dampak tersebut bisa berupa kerusakan atau kehilangan nyawa, cacat, kehilangan harta benda dan sumber penghidupan. Pada intinya, dalam bahasa kita, bahasa Indonesia, musibah selalu dikaitkan dengan semua peristiwa yang menyakitkan, menyengsarakan, dan bernilai negatif yang menimpa manusia. Musibah dalam konteks ini merupakan peristiwa yang menimpa manusia baik yang berasal dari peristiwa alam maupun sosial. Namun, sesungguhnya, kata musibah dalam al-Quran secara umum mengacu pada sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif. Kata musibah berasal dari kata a-shaba yang berarti sesuatu yang menimpa kita. Dalam istilah al-Quran, apa saja yang menimpa manusia disebut dengan “musibah”, baik yang berwujud kebaikan atau keburukan bagi manusia. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuz sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” [ al-Hadid 57 22-23]. Pada firman-Nya yang lain, Allah menjelaskan bahwa jika “musibah” yang berupa kebaikan, maka hal itu berasal dari Allah, dan bila “musibah” berupa keburukan –yang kemudian disebut dengan bencana, maka karena perbuatan manusia sendiri. Allah menegaskan مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi” [ al-Nisa 4 79].Lanjutan Khutbah PertamaSidang jumat yang berbahagia Berdasarkan penjelasan tadi, al-Quran juga secara jelas dan sempurna menguraikan bahwa tidak semua musibah adalah bencana. Musibah yang disebut bencana dan bermakna negatif adalah musibah yang mendatangkan keburukan bagi manusia dan hal itu merupakan hasil dari perbuatan manusia sendiri juga, bukan dari Allah, meskipun secara kasat mata musibah itu terjadi di alam. Sebagaimana firman-Nya وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu” [ al-Syura 40 30]. Ketika musibah diartikan dengan penilaian yang negatif mendatangkan keburukan, maka manusia dianjurkan untuk memaknainya dengan mengembali-kan “esensi” peristiwanya kepada Allah. Dengan demikian, dalam konteks ini, manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah “pelaku dan penerima” cobaan Allah berupa sesuatu yang dinilai tidak baik tersebut. Allah menyatakan اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ “yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [ al-Baqarah 2 156]. Dengan memahami arti kata musibah seperti itu, maka musibah yang bernilai negatif merupakan salah satu cobaan dan ujian yang berupa keburukan. Dalam al-Quran cobaan dan ujian tersebut disebut dengan istilah bala’ sebagaimana firman Allah وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” [ al-Baqarah 2 155]. Di samping berfungsi sebagai ujian dan cobaan yang berupa keburukan, bala’ juga merupakan ujian dan cobaan yang berupa kebaikan. أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُKhutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْ مِنِيْنَ وَالْمُؤْ مِنَاتِ, اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ, اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ, يَا قَاضِىَ الْحَاجَاتِ, وَيَا كَافِىَ الْمُهِمَّاتِ . اَللّهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُ قْنَا اتِّبَاعَةَ, وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِنَابَهُ رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . اِنَّ اللهَ يَاْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ, اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Saksikan Video Pilihan IniBencana Banjir dan Longsor Kolosal Cilacap, Pemerintah Tergagap* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
khutbah jumat cerita motivasi